Penerapan Manajemen SDM terhadap Bisnis Siomay Gerobak

Salah satu contoh sederhana usaha kecil seseorang yang dulunya bekerja sebagai petani bisa kita lihat di Desa Sukanegara, Dusun Adimulya, Ciamis provinsi Jawa Barat.
Ia adalah pak Maskun yang kini telah menjadi pebisnis usaha siomay gerobak sejak 3 tahun lalu di kampungnya sendiri, ia memutuskan untuk banting stir dalam berusaha bertahan hidup demi menafkahkan keluarganya setelah sebagian wilayah sawah milik ayahnya ia jual sebagai modal memulai usaha siomay. Pak Maskun mengatakan “Saya tertarik ingin membangun usaha penjualan siomay gerobak karena saya ingin suasana baru dalam mencari nafkah, biar gak nyawah saja terus kerjaannya..hhee..kalau untuk bersawah, saya masih punya sebagian sawah dari sisa yang sudah dijual,”katanya.
Dari hasil penjualan sebagian area sawahnya pak Maskun kini dapat membangun bisnis siomay, yang dirasanya cukup untuk memulai usahanya, tiga buah gerobak lengkap dengan atribut dan menu hidangan yang siap jual, satu gerobak dipakai untuk usahanya sendiri dan dua gerobak lainnya digunakan oleh para tenaga kerja sekaligus anak buahnya yang pak Maskun rekrut sendiri.
Untuk perekrutan anak buahnya, ia memilih saudaranya yaitu dua keponakan laki-laki yang kebetulan masih muda dan tidak melanjutkan pendidikannya. Kemudian untuk daerah penjualan siomay gerobak keliling ini, pak Maskun membagi tugas kepada keponakannya itu untuk menjual siomaynya di daerah-daerah di luar kampung, di area strategis seperti persekolahan ataupun pasar, dan untuk wilayah kampungnya sendiri, itu merupakan area pak Maskun dalam berjualan siomay gerobak kelilingnya, dikatakan pak Maskun, “walaupun kadang-kadang setiap 3 bulan sekali kita akan bergantian untuk tempat atau area keliling penjualan siomay gerobak ini,”
Dan untuk sistem penggajian yang dilakukan, disini pak Maskum menyesuaikan dengan kesepakatan awal, yaitu sistem setoran, tetapi untuk jumlah setoran, pak Maskun tidak terlalu mematok harga, ia mengatakan bahwa cukuplah sedapatnya saja, walaupun karena pembeli siomay di kampung tidak seramai di kota, keuntungan sekitar kurang lebih15 ribu bisa didapat oleh para anak buahnya. Pak Maskun juga pernah mengatakan “mudah-mudahan uang yang didapat anak-anak dari hasil berjualan siomay, keuntungannya bisa di tabung untuk membuat gerobak dan modal usaha siomay baru,”katanya.
Dari hal ini kita juga bisa melihat penerapan manajemen sumber daya manusia yang dilakukan pak Maskun, mulai dari perekrutan sampai pada penggajian. walaupun cuma sebagai tukang siomay pak Maskun juga berkeinginan untuk menyekolahkan anaknya sampai pada perguruan tinggi.